7Juli 2021 6.43 AM · Bacaan 2 menit. Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan PT Huadi Nickel Alloy kembali membuka pendidikan vokasi setara Diploma Satu untuk 72 mahasiswa di Bantaeng, Sulawesi Selatan untuk memenuhi kebutuhan industri. "Badan Pengembangan SDM Industri (BPSDMI) Kementerian Perindusrian telah menyelenggarakan pendidikan GI 150 kV Bantaeng Switching yang berlokasi di Desa Papanloe Kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini berhasil energize, Selasa (7/3/2023). Sebelumnya, dilakukan berbagai pengujian dan mendapatkan Rekomendasi Layak Bertegangan (RLB) pada tanggal 06 Maret 2023. General Manager PLN UIP Sulawesi, Defiar Anis menyampaikan KaPeKa desak Pemerintah Bantaeng investigasi K3 PT Huadi Nickel Alloy. Dirta Lasabuda. 14 Februari 2022 15 Februari 2022. Bantaeng, Bantaeng, aksaranews.com -- Ratusan massa aksi, yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Pa’jukukang (GEMPA) melakukan aksi damai unjuk rasa di depan PT BANTAENG- Aliansi Mahasiswa Pro Petani Rumput Laut menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Bantaeng, Kamis (15/11/2018). Menyikapi proses ganti rugi lahan pihak PT Huadi Nickel Alloy ke para petani yang belum terbayarkan. Koordinator Aksi, Abd Jalil menuding pihak perusahaan Huadi salah dalam melakukan proses pembayaran ganti rugi. HERALDSULSEL.ID, BANTAENG – Sejak 2018 lalu, PT Huadi Nickel Alloy yang mengoperasikan smelter nikel sudah dikeluhkan masyarakat, Bantaeng dan Bulukumba. Sebab, kegiatan smelter itu sangat jauh dari standar pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Hal tersebut disampaikan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulsel, Al Amien. HuadiNickel Alloy Bantaeng (PT. HNAI) Pemantauan status kesehatan karyawan PT. HNAI melibatkan tim skrining Dinkes Bantaeng. Terdiri dari 15 Dokter dan 15 orang Perawat. Pekerja yang kami temukan memiliki riwayat perjalanan dari China dan mempunyai gejala demam, batuk dan napas pendek akan kami lakukan pemantauan. Berdasarkan data dari Dinas Penanaman Modal dan PTSP Kabupaten Bantaeng selama rentang 2010 hingga 2017 tercatat 13 perusahaan dengan berbagai bidang usaha. PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia (HNI) merupakan perusahaan pengolahan dan pemurnian nikel yang beroperasi di KIBA dengan luas 100 ha. HERAL.ID, BANTAENG-Sejak 2018 lalu, PT Huadi Nickel Alloy yang mengoperasikan smelter nikel sudah dikeluhkan masyarakat, Bantaeng dan Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebab, kegiatan smelter itu sangat jauh dari standar pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Pentingnya pemahaman terkait ketenagakerjaan dan keselamatan kerja perlu ditransformasikan ke dalam perusahaan termasuk di bidang industri pengolahan nikel. Menyikapi hal tersebut, PT. Huadi Bantaeng Industry Park (HBIP) bersama perusahaan tenant Huadi Group lainnya kemudian melaksanakan Sosialisasi Ketenagakerjaan dan Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) pada Rabu, 15 Februari 2023 HALILINTARNEWSid, BANTAENG — Salah seorang Warga Papanloe Desa Papanloe Kecamatan Pa'jukukang Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan, diduga tewas dianiaya oleh oknum Anggota Brimob yang bertugas di perusahaan PT Huadi Nickel Alloy.. Pantauan media keluarga Almarhum menjemput di RSUD Bantaeng untuk persiapan jenazah diberangkatkan ke RS Makassar. Pekerja Kecelakaan di Pabrik Smelter Bantaeng Masih Dirawat, Kaki Diamputasi. Karyawan pabrik smelter di PT Huadi Nickel Alloy Bantaeng, Sulsel mengalami kecelakaan kerja. Korban masih dirawat di rumah sakit namun kakinya diamputasi. 1. PT HNI Bantaeng memberi jaminan tidak melakukan PHK kepada karyawannya yang mengalami kecelakaan kerja hingga IlustrasiPihak Kementerian Ketenagakerjaan RI atau Kemnaker menjelaskan, mereka bisa bekerja tanpa perlu mendapatkan izin kerja dari Kemnaker sebab PT Huadi masuk dalam bagian proyek strategis nasional atau PSN (SPNEWS) Makassar, Para Tenaga Kerja Asing ( TKA ) asal China atau Tiongkok yang datang ke Bantaeng, Sulsel, untuk bekerja di PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia tak [] Bantaeng, aksaranews.com — Manager Human Resource Development atau HRD PT Huadi Nickel Alloy (HNA) Bantaeng, Sulawesi Selatan, Andi Adrianti Latippa, Student at Akademi Komunitas Industri Manufaktur Negeri Bantaeng Indonesia. Lihat koneksi bersama Anda. Tampilkan koneksi bersama dengan Syarif PT. Huadi Nickel AaHk5P. › Utama›Pengolahan Nikel Beroperasi di... KOMPAS/RENY SRI AYU Suasana di dalam pabrik pengolahan bijih nikel PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Sabtu 26/1/2019.BANTAENG, KOMPAS - Pabrik peleburan bijih nikel beroperasi di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Sabtu 26/1/2019. Pengoperasian pabrik ini diharapkan memberi dampak ekonomi bagi warga setempat, termasuk penyerapan tenaga peleburan smelter PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia ini diresmikan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, Sabtu. Nurdin juga secara simbolis melepas ekspor nikel dari pabrik ini ke China. Sebelum diresmikan, perusahaan ini sudah melakukan uji coba dan ekspor nikel. Hingga kini, ekspor telah dilakukan sebanyak 15 kali dengan jumlah metrik ton. “Meresmikan smelter di tengah daerah yang tak memiliki nikel itu seperti mimpi. Sejak awal saat merencanakan hingga perusahaan merintis pembangunan smelter di Bantaeng, banyak yang pesimistis. Tapi, pembangunan jalan terus dan hari ini akhirnya diresmikan,” kata Nurdin. KOMPAS/RENY SRI AYU Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah menandatangani prasasti sebagai tanda resminya beroperasi smelter nikel PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia di Kabupaten Bantaeng, Sulsel, Sabtu 26/1/2019.Pembangunan smelter ini sudah dimulai sejak 2014. Lokasinya di Kecamatan Pa’jukukang. Saat itu, Nurdin yang masih menjabat Bupati Bantaeng mengajak sejumlah investor, termasuk dari luar negeri, untuk membangun memberi kemudahan perizinan sekaligus menyiapkan kawasan industri. PT PLN juga didorong menyediakan listrik untuk kebutuhan smelter tersebut. Bijih nikel yang diolah berasal dari perusahaan tambang di Kolaka, Sulawesi Tenggara, dan Morowali, Sulawesi Huadi Nickel-Alloy Indonesia adalah perusahaan pengolahan dan pemurnian nikel. Perusahaan ini merupakan kerja sama investasi antara PT Duta Nikel Sulawesi dari Indonesia dan Shanghai Huadi dari China. Sejauh ini, jumlah tenaga kerja lokal yang terserap adalah 400 orang dan tenaga kerja asing sebanyak 50 orang. Adapun tujuan pemasaran produksi nikel dari pabrik itu adalah China, India, Korea Selatan, dan SRI AYU Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah melepas ekspor nikel ke China. Ini adalah rangkaian peresmian beroperasinya smelter nikel di Bantaeng, Sulsel, Sabtu 26/1/2019.Smelter tersebut dibangun dengan perencanaan dua tahap. Untuk tahap awal, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel ini senilai 60 juta dollar AS. Sementara untuk tahap kedua, investasinya direncanakan senilai 240 juta dollar Utama dan Direksi PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia Amir Jao mengatakan, saat ini smelter terdiri dari dua jalur produksi dengan kapasitas metrik ton feronikel per tahun. Untuk perencanaan tahap kedua, akan dimulai pertengahan tahun ini dengan menambah tiga tungku pembakaran dengan kapasitas produksi hingga metrik ton per tahun."Perusahaan kami telah memperoleh fasilitas kawasan berikat dari Kementerian Keuangan melalui Kantor Wilayah Bea dan Cukai dalam rangka peningkatan SDM juga," kata SRI AYU Petugas Bea dan Cukai Wilayah Sulawesi Bagian Selatan memeriksa dokumen pengiriman ekspor PT Huadi, Sabtu 26/1/2019.Amir mengatakan, PT Huadi menggunakan metode electric furnace system dalam mengolah dan memurnikan nikel menjadi feronikel. Perusahaan juga merencanakan membangun industri hot rolled HR stainless steel dan cold rolled CR.Inspektur 1 Kementerian Perindustrian Arus Gunawan mengatakan, yang lebih penting dari kehadiran smelter ini adalah pengembangan investasi di sekitar kawasan pabrik, termasuk wilayah Sulsel pada umumnya. Penyerapan tenaga kerja juga diharapkan akan menjadi solusi itu, dia berharap semua pihak memberi dukungan. Adapun PT PLN menyanggupi pasokan listrik sebesar 170 juta VA setelah pada tahap pertama memasok listrik sebesar 46 juta VA. EditorMohamad Final Daeng MAKASSAR - PT Huadi Nickel Alloy kembali menyuntikkan modal sebesar Rp6,5 triliun untuk pembangunan smelter Bantaeng. Penyerahan dana tersebut diberikan langsung kepada Gubernur Sulsel Nurdin pembangunan pusat pengolahan hasil tambang itu mulai dilakukan sejak 2012 lalu. Komisaris Utama PT Huadi Nickel Alloy Amir Jao mengatakan investasi tersebut untuk penambahan enam buah tungku di pabrik tersebut. Yang mana penyerahan modal tersebut dilakukan di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM."Investasi untuk menambah tungku pabrik sudah dimulai sejak awal 2020. Jadi, tahun ini ada penambahan empat tungku. Tahun depan tambah dua tungku lagi. Nanti Huadi memiliki delapan tungku," ungkap Amir di hadapan Menteri ESDM Arifin Tasrif, Senin 13/7/2020.Direktur Utama PT Huadi Nickel Alloy Jos Stefan Hidecky menambahkan progres pembangunan empat tungku pabrik nikel di Desa Papan Loe, Kecamatan Pajukkukang itu mulai dilakukan. Sesuai perjanjian dengan PT PLN, pada April 2021 pabrik tersebut mulai dialiri listrik, sehingga bisa beroperasi. Sebelumnya, guna memperkuat sinergitas dalam meningkatkan iklim investasi di Sulsel, PLN Unit Induk Wilayah UIW Sulselrabar menandatangani MoU dengan Pemprov Sulsel untuk menambah pasokan listrik untuk PT Huadi Nickel Alloy sebesar 160 MoU dilakukan pula penandatanganan Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik SPJBTL dengan layanan premium setelah perusahaan yang bergerak di pengolahan biji nikel tersebut sudah menggunakan daya listrik sebesar 47 JugaAkses Masuk ke Makassar Dibatasi, Begini Implementasi di Hari PertamaSulsel Adopsi Strategi Baru Menangani Covid-19Dinamika Terkini Seputar Bisnis Smelter"Kalau kapasitas delapan tungku sudah terpasang, Huadi akan memproduksi metrik ton ferronikel per tahun, dari metrik ton yang dihasilkan dua tungku," ungkap Jos Sulsel Nurdin Abdullah menyatakan sesuai komitmen di masa pemerintahannya, pihaknya akan mempermudah alur investasi yang akan masuk ke Sulsel. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan pada investor yang dengan mempermudah proses perizinan. Termasuk dukungan dalam kebijakan terkait investasi."Kami pemerintah meyakinkan kepada pengusaha bahwa kemudahan yang diberikan bukan sekadar janji. Hari ini saya antar investor menghadap menteri ESDM. Menteri memberi jaminan untuk memberi dukungan," kata Nurdin. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini smelter sulsel Pabrik smelter PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia di Bantaeng, pada November 2018, mulai ekspor. Januari 2019, peresmian pabrik smelter. Sudah peresmian dan ekspor belasan kali tetapi dokumen lingkungan perusahaan masih proses. Investasi pembangunan smelter di Bantaeng memerlukan sekitar US$40 juta. Dua tungku saat ini menghasilkan 150 metrik ton per hari dan metrik ton setiap bulan atau metrik ton setiap tahun. Ini bakal merencanakan pembangunan tahap kedua pada akhir 2020, untuk target produksi metrik ton. Huadi mendapatkan pasokan nikel mentah dari wilayah-wilayah lain mulai Malili di Sulawesi Selatan, Kolaka, Bombana, dan Kolaka Utara di Sulawesi Tenggara, sampai Buton. Salah satu pemasok nikel Huadi, PT Citra Lampia Mandiri, pemegang izin usaha pertambangan IUP di Desa Harapan, Kecamatan Malili, dekat Sungai Pongkeru, seluas hektar. Citra Lampia, dinilai belum memiliki izin pemanfaatan terminal khusus dalam pengangkutan bahan baku tambang. Pajjukukang. Begitu nama satu kecamatan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Wilayah pesisir ini dinilai kering, dan lahan tak produktif. Di kampung ini berdiri pabrik pengelolaan nikel di atas lahan seluas 50 hektar. Sabtu, 26 Januari 2019, Nurdin Abdullah, Gubernur Sulawesi Selatan, dalam perjalanan dari Makassar bersama rombongan termasuk wartawan, meresmikan pabrik nikel itu. Bagi Nurdin, juga mantan Bupati Bantaeng dua periode 2008-2013 dan 2013-2018, pembangunan smelter adalah prioritas. Dalam sambutan dia bilang, ibarat mimpi jadi kenyataan. Bantaeng, kata Nurdin, wilayah kecil yang dulu tak pernah dilirik. Wilayah tak punya nikel, tetapi memiliki pabrik pengelolaan. Kelak, serapan tenaga kerja bagi warga lokal, ditargetkan sampai orang. Adalah PT Huadi Nickel-Alloy. Perusahaan pengelolaan nikel di Shanghai, Tiongkok, yang bekerja sama dengan PT Duta Nikel Sulawesi. Bermula pada 2012, Huadi mendasari investasi dari UU Nomor 4/2009, soal pertambangan mineral dan batubara, yang menyatakan bahan mentah tak bisa ekspor. Melalui penjajakan dan kesediaan listrik, Bantaeng pun jadi salah satu tujuan. “Bantaeng, jadi tempat yang dalam studi kelayakan masih berpotensi memberikan keuntungan dalam bisnis,” kata Lily Candinegara, General Affair and External Relation Manager Huadi. Memilih Bantaeng, katanya, jadi prioritas karena sudah memiliki kawasan industri. “Jika berbentuk kawasan, harapannya dapat mengakomodir semua kepentingan usaha termasuk dengan pengelolaan limbah dan lingkungan yang jadi persyaratan industri.” Aktiitas di pabrik smelter PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Foto Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia *** Ritha Latippa, HR Manager PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia. Ritha, keluarga dekat Nurdin Abdullah, mereka satu fam sebagai Latippa. Bangsawan Bantaeng bergelar Karaeng. Juni 2017, Mongabay dan LSM Balang mengadakan diskusi mengenai kawasan industri di Bantaeng. Ritha hadir sebagai perwakilan perusahaan. Dia bicara mengenai prusahaan menjalankan praktik keterbukaan dalam beroperasi. Saat itu, perusahaan dalam tahap kontruksi. November 2018, Huadi ekspor. Januari 2019, peresmian pabrik smelter sekaligus ekspor ke 15 kali. Beberapa orang yang hadir bertanya-tanya. Wakil Bupati Bantaeng, Sahabuddin, ikut meramaikan kebahagiaan itu. Dia acapkali bertanya, “Di peresmian itu saya baru tau kalau sudah belasan kali ekspor. Selama ini, kami pikir masih tahap pengerjaan,” katanya. Bukan tanpa sebab, Sahabuddin, sebelum jadi Wakil Bupati menjabat Ketua DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera 2013-2018. “Tak ada laporan. Tak ada kabar, tahu-tahu sudah seperti itu. Beroperasi.” Saya berbincang dengan Sahabuddin, di rumah jabatannya di Jalan poros Bantaeng-Bulukumba. Berkali-kali dia menarik napas panjang, saat akan mengurai proyek investasi smelter. “Suatu kali, kami ada rapat di dewan. Perwakilan perusahaan Huadi ikut pula. Ada banyak pertanyaan hingga deadlock,” katanya. Teman-teman di DPRD, katanya, selalu meminta dokumen analisis dampak mengenai lingkungan Amdal. “Selalu saja dijanjikan tetapi hingga masa jabatan saya selesai, tak pernah lihat barang itu,” katanya. Ketika ditanyakan apakah meminta atau menyurati ke instansi terkait. “Itu pasti kami lakukan. Masa itu, semua dijamin bupati Nurdin Abdullah. Bupati selalu bilang, adami itu. Sudah lengkap.’ Itu bahasanya.” Saya mencoba menghubungi gubernur melalui pesan singkat untuk mendapatkan tanggapan. Tak berbalas. Dalam masa jabatannya, dia membuat Tim Percepatan Pembangunan Daerah. Nama-nama yang menduduki jabatan, sosok-sosok yang dekat dengan bisnis sawit dan tambang. Salah satunya, nama koordinator ketahanan pangan ada Prof Ambo Ala, juga komisaris di PTPN XIV. Untuk percepatan pembangunan di Luwu Raya, ada Bustam Titing, juga memiliki usaha pertambangan di Sulawesi Tengah. Padahal, tak lama setelah dilantik, dalam wawancara di Mongabay, gubernur menyebutkan, Sulsel, bukan untuk sawit dan tambang. Melihat hulu hilir nikel Pabrik dua tungku furnace Huadi sedang beroperasi jelang siang, Maret 2019. Saya melihat dari pinggiran pantai, yang berhubungan dengan Laut Flores. Asap keluar dari cerobong. Tungku itu hasilkan produk nikel batangan setengah jadi yang disebut ferronickel. Tungku-tungku itu bekerja saban hari hasilkan sekitar metrik ton. Ia akan terus digenjot hingga metrik ton. Huadi mendapatkan pasokan nikel mentah dari wilayah-wilayah lain mulai Malili di Sulawesi Selatan, Kolaka, Bombana, dan Kolaka Utara di Sulawesi Tenggara, sampai Buton. Lily tak ingin menyebut nama-nama perusahaan yang mamasok bahan baku ke pabrik itu. “Supplier-nya keberatan disampaikan namanya,” katanya, dalam pesan singkat. Dalam notulensi rapat di Dinas Lingkungan Hidup Sulawesi Selatan, 21 November 2018, menuliskan, salah satu penyuplai bahan baku tambang ke Huadi adalah PT Citra Lampia Mandiri. Perusahaan ini memegang izin usaha pertambangan IUP di Desa Harapan, Kecamatan Malili, dekat Sungai Pongkeru, seluas hektar. Dalam lembaran informasi di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Sulsel, 6 Februari 2018, untuk perpanjangan pertama izin usaha pertambangan operasi produksi nikel, 85% saham Citra Lampia Mandiri, dikuasai PT Asia Pasific Mining Resources. Sebanyak 15% saham Insiyur Isrullah Achmad. Asia Pacific Mining Resources, didirikan 1999 dan berpusat di Jakarta Selatan. Ini perusahaan penambangan dengan wilayah eksplorasi batubara di Kalimantan Selatan dan Timur, serta Sumatera. Melayani pelanggan untuk kebutuhan pembangkit listrik, dan operasi produksi semen, baja, kimia, tekstil, atau kertas, di Indonesia, India, Tiongkok, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Notulensi DLHD Sulsel, adalah dari rapat dengar pendapat yang menghadirkan perwakilan Huadi, Citra Lampia, dan Dinas Lingkungan kabupaten. Sembilan perwakilan masing-masing bicara dalam pertemuan itu. Citra Lampia, dianggap tak memiliki izin pemanfaatan terminal khusus dalam pengangkutan bahan baku tambang. Huadi, seharusnya menghentikan segala aktivitas sebelum perbaikan amdal. Semua berjalan seperti biasa. Rapat seakan tak ada apa-apanya. Pada Januari 2019, ketika Gubernur Sulsel, meresmikan smelter di Bantaeng, pengurusan dokumen lingkungan masih proses. Belum ada kepastian. Aktifitas PT PUL, di Jalan Poros Ussu-Malili. Bahan baku perusahaan ini juga dikirim ke Bantaeng. Foto Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia *** Sebelum dengar pendapat, Citra Lampia, sudah mengapalkan empat kali bahan baku nikel menuju Bantaeng. Pada pengapalan kelima, pengiriman disetop. Perusahaan ini jadikan terminal ex-Zedco yang dibangun oleh PT Panca Digital Solution PDS sebagai terminal sementara. PDS di Kecamatan Malili, Luwu Timur, beroperasi sejak 2007, juga mengeruk nikel. Pada 2011, perusahaan berhenti beroperasi karena aturan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral KESDM yang tak membolehkan menjual bahan mentah tanpa ada pabrik pengelolaan di dalam negeri. Setelah izin lebih longgar, PDS kembali aktif awal 2019. Citra Lampia, melewati jalan tambang dalam IUP PDS, meski sudah memiliki kerjasama. Pada 14 Maret 2019, saya menemui Andi Tabacina, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Luwu Timur. Hari itu, jelang siang, ada seremonial dihadiri beberapa pejabat kabupaten hingga anggota legislatif. Sebuah tenda besi berdiri di terminal pengapalan. Hujan mengguyur pada malam sebelumnya membuat tanah jadi lengket. Ratusan ribu metrik ton setok bahan baku PDS terlihat menyerupai bukit di sekitar pelabuhan. Orang-orang ini berkumpul untuk menanam mangrove di samping pelabuhan jetty. Presiden Direktur PDS, Witman Budiarta mengatakan, aksi menanam ini bentuk kepedulian perusahaan menjaga ekosistem. “Kami akan menanam pohon-an di lahan seluas dua hektar,” katanya. Tabacina mengatakan, pemilik pelabuhan itu kerjasama antara PDS dan Citra Lampia. Jimmy Maya Rasywan, wakil direktur Citra Lampia Mandiri, dua hari setelah itu mengatakan, pemilik pelabuhan adalah Citra Lampia. “Silakan cek ke instansi terkait. Kami yang punya itu. Secara hukum, izin ada pada kami. Kalau tak percaya, tongkang di sana punya kami Citra Lampia,” katanya. Pada 2018, Citra Lampia, juga dituding membuat Sungai Pongkeru berwarna coklat. Beberapa pemuda desa protes namun selesai di meja perundingan. “Bagi kami itu kritik. Menjaga alam tetap lestari dalam proses penambangan bukan usaha perusahaan sendiri. Harus multi pihak.” “Tapi ingat jugalah, apakah karena proses penambangan kami semua jadi keruh? Harus liat juga di kawasan ini saya kira marak pula illegal logging.” Jimmy senang bercerita. Saat kami bertemu, dia mengajak saya ke kedai kopi, dengan alasan kantor sedang ramai. Di kedai, dia juga mengajak dua wartawan lokal, yang dia kenalkan sebagai kawan. “Saya pernah jalan bersama Pak Jimmy, lihat proses penambangan. Saya kira kita tak boleh menyalahkan perusahaan. Itu data lapangan,” kata seorang wartawan. “Saya tak ingin menutupi apa-apa di perusahaan. Kita akan perlihatkan proses penambangan yang baik,” kata Jimmy. Citra Lampia menargetkan, penambangan setiap bulan metrik ton, kadar nikel 1,8. Bahan baku nikel ini, disimpan di tempat penumpukan stockpile berjarak lima km, dari pelabuhan. “Jadi, apakah bahan tambang kami mengotori laut, jaraknya sangat jauh. Saya kira itu tak mungkin.” Dalam proses muat dari pelabuhan ke tongkang, tanah urukan itu jatuh ke laut. Di kawasan itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana dasar laut jadi merah dan penuh lumpur. Nelayan penjala ikan di Pa’jukukang dengan latar belakang pelabuhan PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia. Foto Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia Benarkah tak punya limbah B3? Jos Stefan Hidecky, Direktur Utama Huadi Nickel-Alloy, menerima saya di ruangan pertemuan perusahaan. Sebuah ruangan kecil kelihatan sesak karena meja rapat dan satu set sofa di bagian lain. Dia mengenalkan tentang pabrik pengolahan nikel, yang menggunakan energi listrik. Memiliki dua tungku furnace dengan kapasitas 40 MW. Investasi pembangunan smelter di Bantaeng memerlukan sekitar US$40 juta. Dua tungku saat ini menghasilkan 150 metrik ton per hari dan metrik ton setiap bulan atau metrik ton setiap tahun. Ini bakal merencanakan pembangunan tahap kedua pada akhir 2020, untuk target produksi metrik ton. Produk akhir Hudi menghasilkan ferronickel. Sebuah bahan setengah jadi yang mengandung kadar nikel Ni 10-15%. Selebihnya, kandungan besi. Ferronickel berbentuk batangan. Batangan-batangan inilah yang dikapalkan menuju Shanghai di Tiongkok, melalui Makassar. Perjalanan dari Makassar menuju Tiongkok sekitar 10 hari. Setiap pengiriman pakai kontainer mterik ton. “Rata-rata seperti itu. Kami tidak tetap, jadi itu metrik ton adalah minimal dan maksimal,” kata, Jos. Kawasan pabrik smelter Huadi, berada tepat di Jalan poros Bantaeng–Bulukumba. Pintu utama berhadapan langsung dengan pelabuhan. Aktivitas pelabuhan ini sebelumnya sempat ribut dengan para nelayan. Nelayan khawatir, bongkar muat dan lalu lintas kapal akan mempengaruhi rumput laut mereka. LSM Balang di Bantaeng, menemukan keganjalan sejak awal kala lokasi jadi kawasan industri, mulai harga tanah hingga dampak lingkungan. Jarak pabrik pengolahan nikel dari rumah warga sangat dekat. Bahkan di depan pintu gerbang ada bangunan rumah susun sewa. Di rusun itu, ada beberapa karyawan pabrik dan warga yang tinggal. Saya berdiri menyaksikan pemandangan. Bagi perusahaan, kata Jos, kesehatan dan keselamatan kerja jadi pertimbangan paling utama. Perusahaan, katanya, memasang penyaring debu di setiap cerobong jadi hampir tak ada partikel debu keluar. Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan apa yang saya saksikan selama empat hari di Bantaeng. Saya melihat bagaimana cerobong itu bekerja dan mengeluarkan kepulan asap. Ketika Jos mengajak saya melihat proses pengelolaan, kami berjalan dengan mobil. Tak ada penggunaan safety belt, sepatu boot, atau pula pelindung kepala. Di gedung tempat produk ferronickel ditampung sementara, beberapa pekerja berjalan tanpa masker. Gedung itu masih terlihat berkilau bersih. Meski di beberapa bagian terdapat tumpukan debu. Di bagian lain bangunan, seorang pekerja memasukkan ferronickel ke karung, bagian lain produk perusahaan masih bertumpuk dan panas. Untuk menghasilkan ferronickel, dilakukan dengan sistem pyrometalurgi. Sistem ini diklaim Jos dengan memanaskan bahan baku nikel, tanpa pakai bahan kimia. “Jadi produk kami, kelak lebih banyak digunakan dalam campuran besi stainless steel,” katanya. “Kenapa dalam lingkungan seharusnya perusahaan ini sehat? Karena kami tak menggunakan bahan kimia.” Jadi slag atau limbah tambang, katanya, tak memiliki tingkat bahaya. “Di beberapa negara, slag seperti ini tidak digolongkan limbah B3 bahan beracun dan berbahaya-red, jadi bisa diolah kembali.” Aturan di Indonesia, masih menggolongkan limbah ini sebagai berbahaya. Berbeda dikatakan Lily Candinegara. Untuk pengolahan dan pemurnian nikel, bahan baku pendukung coking coal dan anthracite yang mengandung bahan kimia. Dalam beberapa literatur, coking coal, berbahan dasar batubara untuk pembuatan kokas dalam industri baja dan besi. Proses inilah kelak yang akan jadikan biji besi cair. anthracite atau antrasit adalah formasi tua yang membuatnya jadi batubara dengan kekerasan tertinggi. Antrasit untuk injeksi pada tanur industri baja. Keterangan foto utama Pelabuhan PT Citra Lampia Mandiri. Tampak tongkang dengan nikel mentah. Foto Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia Pabrik smelter PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Foto Eko Rusdianto/ Mongabay Indonesia Artikel yang diterbitkan oleh SMM7 March 15 according to recent Indonesian media reports, the management of, PT Huadi Wadi Nickel Alloy Company has successfully established two smelters since 2012. The management of, PT Huadi Nickel Alloy Company has invested trillion rupiah again, and six more furnaces have been added since 2020. The Minister of Energy and Mineral Resources, Arifen Tasrif Arifin Tasrif, accepted Professor HM Nurdin Abdullah, Governor of South Sulawesi Province, and said that he fully supported the steps taken by Wadi to invest in the development of the mining industry. Nurdin Abdullah Nurdin Abdullah accompanied PT Huadi Nickel Alloy CEO Amir Jao to face Arifin Tasrif at Minister ESDM's office in Jakarta on Monday, July 13, 2020. According to Emile Amir, investment in additional factories will begin at the beginning of 2020. "four more stoves have been added this year," he explained. Next year, we will add two stoves, thus adding six stoves. Later, Wadi will have eight stoves. " PT Huadi nickel alloy director Jos Stefan Hidecky said that in the Papan Loe village of Bantaeng Pajukkukang district, the construction of four nickel furnaces is in progress. "an agreement has been reached with PLN in April 2021," he explained. If eight stoves have been installed, Wadi will produce 200000 metric tons per year from the 50000 tons produced by the two stoves. In the presence of ESDM Minister Arifin Tasrif, Professor HM Nurdin Abdullah, Governor of South Sulawesi Province, explained that investors would continue to be encouraged to invest in South Sulawesi Province. He said that the form of encouragement from the provincial government of South Sulawesi is conducive to licensing and provides support in all forms of investment-related policies. 2020 China Ni-Cr stainless Steel Industry Market and Application Development Forum Scan the QR code, apply for participation or join the SMM metal exchange group

huadi nickel alloy bantaeng